Maf'ul bih (الْمَفْعُولُ بِهِ) adalah isim manshub yang dikenai pekerjaan fi'il — dalam bahasa Indonesia disebut objek. Contoh: كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ ("murid itu menulis pelajaran"), kata الدَّرْسَ adalah maf'ul bih karena dialah yang ditulis, dan ia dibaca fathah (manshub).
Dalam kalimat verbal (jumlah fi'liyah), urutan dasarnya adalah fi'il → fa'il → maf'ul bih. Fi'il menyebut pekerjaan, fa'il menyebut pelakunya, dan maf'ul bih menyebut sasaran pekerjaan itu. Karena hampir semua kalimat bahasa Arab yang bermakna "melakukan sesuatu terhadap sesuatu" memakai pola ini, memahami maf'ul bih adalah syarat untuk bisa membaca ayat dan kitab dengan benar.
Artikel ini membahas pengertian maf'ul bih langsung dari teks Matnul Ajurrumiyah dan Alfiyah Ibnu Malik, cara mengenalinya, tanda i'rob, macam-macamnya (termasuk 12 dhomir muttashil dan 12 dhomir munfashil), kaidah urutan yang sering membingungkan, maf'ul bih ganda, hingga cara membedakannya dari jar-majrur dan naib fa'il.
- Pengertian Maf'ul Bih menurut Jurumiyah dan Alfiyah
- Cara Mengenali Maf'ul Bih
- Tanda I'rob Maf'ul Bih
- Macam-Macam Maf'ul Bih
- Kaidah Urutan Maf'ul Bih dalam Kalimat
- Maf'ul Bih Ganda
- Cara I'rob Maf'ul Bih
- Maf'ul Bih, Jar-Majrur, dan Naib Fa'il: Jangan Tertukar
- Contoh dan Pendalaman Lebih Lanjut
- FAQ Seputar Maf'ul Bih
- Kesimpulan
Pengertian Maf'ul Bih menurut Jurumiyah dan Alfiyah
Dalam istilah nahwu, maf'ul bih adalah isim yang menjadi tempat jatuhnya pekerjaan fi'il. Imam Ibnu Ajurrum mendefinisikannya secara ringkas dalam Matnul Ajurrumiyah:
"Bab maf'ul bih: yaitu isim manshub yang dikenai oleh fi'il, seperti ucapanmu dharabtu zaidan (aku memukul Zaid) dan rakibtu al-farasa (aku menunggang kuda). Ia ada dua macam: zhahir dan mudhmar."
— Ibnu Ajurrum, Matnul Ajurrumiyah, Bab Al-Maf'ul Bih
Dari satu kalimat itu kita bisa mengambil tiga ciri: (1) maf'ul bih pasti isim (kata benda atau yang kedudukannya seperti kata benda), (2) hukumnya manshub, dan (3) ia adalah sesuatu yang dikenai pekerjaan fi'il, bukan yang melakukannya.
Sementara itu, Ibnu Malik dalam Alfiyah tidak membuat bab tersendiri berjudul "maf'ul bih", tetapi menjelaskan hukumnya pada bab ta'addi al-fi'l wa luzumuh (fi'il muta'addi dan lazim). Di sana beliau menyebut tanda fi'il yang bisa memiliki maf'ul bih, lalu menetapkan hukum nashab bagi maf'ulnya:
فَانْصِبْ بِهِ مَفْعُولَهُ إِنْ لَمْ يَنُبْ … عَنْ فَاعِلٍ نَحْوُ تَدَبَّرْتُ الْكُتُبْ
"Tanda fi'il muta'addi ialah engkau bisa menyambungnya dengan hā' (dhomir) yang kembali kepada selain masdar fi'il itu, seperti 'amila. Maka nashabkanlah maf'ul dengan fi'il tersebut, selama maf'ul itu tidak menggantikan kedudukan fa'il, seperti tadabbartu al-kutub (aku mengkaji kitab-kitab)."
— Ibnu Malik, Alfiyah, Bab Ta'addi Al-Fi'l wa Luzumuh
Dua kutipan ini saling melengkapi. Jurumiyah memberi definisinya (isim manshub yang dikenai fi'il), sedangkan Alfiyah memberi syarat dan batasannya: maf'ul bih hanya muncul pada fi'il muta'addi, dan statusnya berubah bila fi'il dibuat majhul. Frasa إِنْ لَمْ يَنُبْ عَنْ فَاعِلٍ ("selama tidak menggantikan fa'il") merujuk pada kasus naib fa'il, misalnya كُتِبَ الدَّرْسُ — di sini الدَّرْسُ tidak lagi manshub karena sudah naik menjadi naib fa'il.
كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ
kataba ath-thaalibu ad-darsa — "Murid itu menulis pelajaran."
كَتَبَ = fi'il · الطَّالِبُ = fa'il · الدَّرْسَ = maf'ul bih
Cara Mengenali Maf'ul Bih
Ada dua cara praktis untuk memastikan sebuah kata adalah maf'ul bih:
- Uji pertanyaan. Setelah menemukan fi'il dan fa'il, tanyakan "apa atau siapa yang di-[fi'il]?" Pada كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ, tanyakan "apa yang ditulis?" Jawabannya الدَّرْسَ, itulah maf'ul bih.
- Uji dhomir hā' (tanda dari Alfiyah). Fi'il muta'addi bisa disambung dhomir yang kembali ke benda yang disebut sebelumnya: الْكِتَابُ قَرَأْتُهُ ("buku itu, aku membacanya"). Fi'il lazim seperti نَامَ (tidur) tidak bisa diuji dengan cara ini karena memang tidak menuntut objek.
Dengan kata lain, bila fi'ilnya lazim, tidak akan ada maf'ul bih. Konsep ini dibahas lengkap di Fi'il Muta'addi dan Lazim.
Tanda I'rob Maf'ul Bih
Maf'ul bih selalu manshub, tetapi tanda nashabnya mengikuti jenis isimnya:
| Jenis Isim | Tanda Nashab | Contoh |
|---|---|---|
| Isim mufrad & jamak taksir | Fathah | قَرَأَ الْكِتَابَ / قَرَأَ الْكُتُبَ |
| Jamak muannats salim | Kasrah | كَرَّمَ الْمُعَلِّمَاتِ |
| Isim mutsanna | Ya' | قَرَأَ الْكِتَابَيْنِ |
| Jamak mudzakkar salim | Ya' | شَكَرَ الْمُعَلِّمِينَ |
| Asmaul khamsah (أَبٌ، أَخٌ، حَمٌ, dst.) | Alif | رَأَيْتُ أَبَاكَ |
| Isim mabni (dhomir, isyarah, maushul, istifham) | Tidak tampak (mahall nashab) | ضَرَبَهُ / أَكْرَمْتُ هَذَا |
Perhatikan bahwa jamak muannats salim tampil beda: tanda nashabnya kasrah, bukan fathah seperti kebanyakan isim manshub. Contoh dalam Al-Qur'an: خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ (QS. Al-'Ankabut: 44) — السَّمَاوَاتِ adalah maf'ul bih yang dibaca kasrah, sedangkan الْأَرْضَ dibaca fathah.
Macam-Macam Maf'ul Bih
Mengikuti pembagian Jurumiyah, maf'ul bih terbagi dua: zhahir dan mudhmar. Dari kedua kelompok ini lahir bentuk-bentuk lain yang perlu dikenali.
Isim Zhahir
Kata benda yang tampak jelas, bukan kata ganti. Contoh: ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا ("Zaid memukul Amr"), عَمْرًا adalah maf'ul bih zhahir.
Isim Mudhmar (Dhomir)
Kata ganti yang menjadi maf'ul bih. Jurumiyah menyebut dua jenis, masing-masing 12 bentuk:
| Pelaku/Sasaran | Muttashil (bersambung) | Munfashil (berdiri sendiri) |
|---|---|---|
| Aku | ضَرَبَنِي | إِيَّايَ |
| Kami | ضَرَبَنَا | إِيَّانَا |
| Engkau (lk.) | ضَرَبَكَ | إِيَّاكَ |
| Engkau (pr.) | ضَرَبَكِ | إِيَّاكِ |
| Kalian berdua | ضَرَبَكُمَا | إِيَّاكُمَا |
| Kalian (lk.) | ضَرَبَكُمْ | إِيَّاكُمْ |
| Kalian (pr.) | ضَرَبَكُنَّ | إِيَّاكُنَّ |
| Dia (lk.) | ضَرَبَهُ | إِيَّاهُ |
| Dia (pr.) | ضَرَبَهَا | إِيَّاهَا |
| Mereka berdua | ضَرَبَهُمَا | إِيَّاهُمَا |
| Mereka (lk.) | ضَرَبَهُمْ | إِيَّاهُمْ |
| Mereka (pr.) | ضَرَبَهُنَّ | إِيَّاهُنَّ |
Dhomir muttashil adalah bentuk yang didahulukan pemakaiannya: selama bisa disambung ke fi'il, dhomir ini yang dipakai. Dhomir munfashil dipakai ketika penyambungan tidak memungkinkan, misalnya saat maf'ul sengaja diletakkan di awal kalimat (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) atau datang setelah إِلَّا (مَا عَلِمْتُ إِلَّا إِيَّاكَ, "aku tidak tahu kecuali engkau").
Isim Mabni Lainnya
Isim isyarah, isim maushul, dan isim istifham juga bisa menjadi maf'ul bih. Karena mabni, nashabnya tidak tampak pada huruf akhir, tetapi tetap berstatus fi mahalli nashbin. Contoh: أَكْرَمْتُ هَذَا ("aku memuliakan yang ini").
Masdar Mu'awwal
Gabungan huruf mashdariyyah (seperti أَنْ) dengan fi'il yang bermakna masdar. Contoh: أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ ("aku ingin belajar"); أَنْ أَتَعَلَّمَ menempati posisi nashab sebagai maf'ul bih, setara maknanya dengan masdar التَّعَلُّمَ. Contoh dalam Al-Qur'an: وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ (QS. An-Nisa': 27).
Jumlah (Maqul Al-Qaul)
Kalimat utuh yang diucapkan setelah fi'il قَالَ juga berkedudukan sebagai maf'ul bih (fi mahalli nashbin). Contoh: قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ (QS. Maryam: 30) — kalimat إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ adalah isi ucapan yang menjadi maf'ul bih.
Kaidah Urutan Maf'ul Bih dalam Kalimat
Urutan standarnya fi'il – fa'il – maf'ul bih, tetapi ada kondisi-kondisi ketika maf'ul wajib diakhirkan, wajib didahulukan, atau boleh berpindah. Ibnu Malik merangkum inti kaidahnya dalam dua bait:
وَمَا بِإِلَّا أَوْ بِإِنَّمَا انْحَصَرْ … أَخِّرْ وَقَدْ يَسْبِقُ إِنْ قَصْدٌ ظَهَرْ
"Akhirkanlah maf'ul jika dikhawatirkan terjadi kerancuan, atau jika fa'il berupa dhomir yang tidak dibatasi. Dan siapa saja yang dibatasi dengan illā atau innamā, akhirkanlah; namun terkadang ia boleh mendahului bila maksudnya sudah jelas."
— Ibnu Malik, Alfiyah, Bab Al-Fa'il
Bait tersebut bisa dipecah menjadi tabel berikut agar mudah dihafal:
| Kondisi | Hukum | Contoh |
|---|---|---|
| Khawatir rancu (fa'il dan maf'ul sama-sama tak tampak i'robnya) | Fa'il dulu, maf'ul wajib diakhirkan | ضَرَبَ مُوسَى عِيسَى |
| Fa'il berupa dhomir muttashil | Fa'il dulu, maf'ul wajib diakhirkan | ضَرَبْتُ زَيْدًا |
| Maf'ul dibatasi dengan إِلَّا / إِنَّمَا | Maf'ul wajib diakhirkan (boleh maju bila maksud jelas) | مَا ضَرَبَ زَيْدٌ إِلَّا عَمْرًا |
| Fa'il dibatasi dengan إِلَّا / إِنَّمَا | Maf'ul wajib didahulukan sebelum fa'il | إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ |
| Maf'ul berupa dhomir muttashil, fa'il isim zhahir | Maf'ul wajib didahulukan sebelum fa'il | ضَرَبَهُ زَيْدٌ |
| Fa'il memuat dhomir yang kembali ke maf'ul | Maf'ul wajib didahulukan sebelum fa'il | وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ |
| Maf'ul berupa isim istifham atau isim syarat | Maf'ul wajib didahulukan sebelum fi'il (karena wajib di awal kalimat) | فَأَيَّ آيَاتِ اللَّهِ تُنْكِرُونَ |
| Fa'il dan maf'ul sama-sama isim zhahir, tidak rancu | Boleh mendahulukan maf'ul, biasanya untuk penekanan | أَكَلَ الْخُبْزَ مُحَمَّدٌ |
| Maf'ul isim zhahir ingin ditekankan | Boleh mendahulukan maf'ul sebelum fi'il dan fa'il | فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ |
Berikut ayat-ayat yang menunjukkan masing-masing kaidah penting di atas:
(QS. Al-Baqarah: 137) "Maka Allah akan mencukupkanmu dari mereka." Dua maf'ul bih berupa dhomir muttashil, yaitu كَ dan هُمْ, tampil sebelum fa'il اللَّهُ.
(QS. Fathir: 28) Fa'il الْعُلَمَاءُ dibatasi oleh إِنَّمَا, sehingga maf'ul bih اللَّهَ wajib maju sebelumnya, sesuai bait Alfiyah di atas.
(QS. Al-Baqarah: 124) Fa'il رَبُّهُ memuat dhomir هُ yang kembali ke إِبْرَاهِيمَ, sehingga maf'ul bih wajib didahulukan agar dhomir tidak mendahului penjelasnya.
(QS. Ghafir: 81) "Maka tanda-tanda Allah yang manakah yang kamu ingkari?" Maf'ul bih أَيَّ adalah isim istifham sehingga wajib berada di awal kalimat.
(QS. Al-Fatihah: 5) Maf'ul bih berupa dhomir munfashil didahulukan sebelum fi'il dan fa'il. Ini termasuk kategori boleh (bukan wajib): pendahuluan maf'ul di sini memberi makna pembatasan, "hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." Dhomir munfashil dipakai karena dhomir muttashil tidak bisa berdiri di awal kalimat.
Maf'ul Bih Ganda
Sebagian fi'il muta'addi membutuhkan dua maf'ul bih sekaligus. Secara garis besar terbagi dua kelompok, dan perbedaannya penting untuk i'rob:
| Kelompok | Contoh Fi'il | Sifat Dua Maf'ul |
|---|---|---|
| Kelompok أَعْطَى dan saudaranya | أَعْطَى، كَسَا، آتَى، سَأَلَ | Maf'ul pertama dan kedua bukan pasangan mubtada-khobar. Salah satunya boleh dibuang bila ada petunjuk. |
| Kelompok ظَنَّ dan saudaranya | ظَنَّ، حَسِبَ، خَالَ، رَأَى، عَلِمَ، وَجَدَ، جَعَلَ | Asalnya mubtada dan khobar. Tidak boleh membuang salah satunya tanpa petunjuk yang jelas. |
| Fi'il | Contoh Kalimat | Maf'ul Bih 1 | Maf'ul Bih 2 |
|---|---|---|---|
| أَعْطَى | أَعْطَيْتُ الطَّالِبَ كِتَابًا | الطَّالِبَ (murid) | كِتَابًا (buku) |
| ظَنَّ | ظَنَنْتُ الْجَوَّ بَارِدًا | الْجَوَّ (cuaca) | بَارِدًا (dingin) |
| جَعَلَ | جَعَلَ اللَّهُ اللَّيْلَ سَكَنًا | اللَّيْلَ (malam) | سَكَنًا (waktu istirahat) |
Pada kelompok ظَنَّ, maf'ul kedua secara makna setara khobar. Ini terlihat jelas pada ayat إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا (QS. Al-Ma'arij: 6-7): dhomir هُ adalah maf'ul bih pertama, sedangkan بَعِيدًا dan قَرِيبًا adalah maf'ul bih kedua — asalnya "ia jauh" dan "ia dekat". Untuk kelompok أَعْطَى, perhatikan وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ (QS. Al-Ma'idah: 46): هُ dan الْإِنجِيلَ keduanya maf'ul bih yang tidak membentuk kalimat nominal.
Ada pula fi'il yang bisa menembus tiga maf'ul bih, yaitu أَعْلَمَ، أَرَى، أَنْبَأَ، نَبَّأَ، أَخْبَرَ، خَبَّرَ، حَدَّثَ. Maf'ul pertama berstatus seperti pada أَعْطَى, sementara dua maf'ul berikutnya berstatus seperti pada ظَنَّ.
Cara I'rob Maf'ul Bih
Rumus dasar i'rob: [kata] : maf'ul bih manshub, dan tanda nashabnya [tanda]. Contohnya:
| Kata | I'rob |
|---|---|
| الدَّرْسَ | Maf'ul bih manshub, tanda nashabnya fathah zhahirah. |
| الْمُعَلِّمِينَ | Maf'ul bih manshub, tanda nashabnya ya' karena jamak mudzakkar salim. |
| الْمُعَلِّمَاتِ | Maf'ul bih manshub, tanda nashabnya kasrah karena jamak muannats salim. |
| ـهُ (ضَرَبَهُ) | Dhomir muttashil mabni 'ala adh-dhamm fi mahalli nashbin maf'ul bih. |
| إِيَّاكَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) | Dhomir munfashil mabni fi mahalli nashbin maf'ul bih muqaddam. |
| أَنْ أَتَعَلَّمَ | Masdar mu'awwal fi mahalli nashbin maf'ul bih. |
Maf'ul Bih, Jar-Majrur, dan Naib Fa'il: Jangan Tertukar
Tiga hal ini sering dikira sama oleh pemula karena sama-sama muncul setelah fi'il. Perbedaannya:
| Unsur | Ciri | Contoh |
|---|---|---|
| Maf'ul bih | Manshub, langsung dikenai fi'il muta'addi tanpa huruf jar | قَرَأَ زَيْدٌ الْكِتَابَ |
| Jar-majrur | Majrur karena didahului huruf jar; bukan maf'ul bih walaupun dalam bahasa Indonesia terasa seperti objek | ذَهَبَ زَيْدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ |
| Naib fa'il | Marfu'; maf'ul bih yang naik menggantikan fa'il saat fi'il dibuat majhul | قُرِئَ الْكِتَابُ |
Maf'ul bih juga perlu dibedakan dari empat maf'ul lainnya dalam kelompok al-maf'ulat:
| Maf'ul | Fungsi | Pertanyaan Pemandu |
|---|---|---|
| Maf'ul bih | Sasaran pekerjaan | Apa/siapa yang dikenai? |
| Maf'ul muthlaq | Masdar penguat/penjelas pekerjaan | Bagaimana/berapa kali? |
| Maf'ul li ajlih | Sebab dilakukannya pekerjaan | Mengapa? |
| Maf'ul fih | Waktu/tempat pekerjaan | Kapan/di mana? |
| Maf'ul ma'ah | Penyerta pekerjaan | Bersama apa? |
Contoh dan Pendalaman Lebih Lanjut
Ingin melihat lebih banyak contoh maf'ul bih — isim zhahir, dhomir, ganda, dan dari Al-Qur'an? Baca Contoh Maf'ul Bih dalam Al-Qur'an dan Kalimat.
Khusus contoh dari surat-surat pendek Juz 30, baca Contoh Maf'ul Bih di Juz 30.
Maf'ul bih adalah pasangan alami fa'il. Bila Anda belum menguasai struktur kalimat verbal, pelajari dulu Jumlah Fi'liyah, lalu lanjutkan dengan kaidah Isim Manshub lainnya.
FAQ Seputar Maf'ul Bih
Apa itu maf'ul bih?
Maf'ul bih adalah isim manshub yang dikenai pekerjaan fi'il, setara dengan "objek" dalam bahasa Indonesia. Definisi ini sesuai dengan rumusan Matnul Ajurrumiyah: isim manshub yang dikenai oleh fi'il, seperti ضَرَبْتُ زَيْدًا.
Apa tanda i'rob maf'ul bih?
Maf'ul bih berstatus manshub. Tandanya fathah untuk isim mufrad dan jamak taksir, kasrah untuk jamak muannats salim, ya' untuk mutsanna dan jamak mudzakkar salim, serta alif untuk asmaul khamsah. Untuk isim mabni, nashabnya tidak tampak (mahall nashab).
Bagaimana cara mengenali maf'ul bih dalam kalimat?
Temukan dulu fi'il dan fa'ilnya, lalu tanyakan "apa atau siapa yang di-[fi'il]?". Jawabannya adalah maf'ul bih. Syaratnya fi'il harus muta'addi; tandanya, sesuai Alfiyah, bisa disambung dhomir yang kembali ke selain masdarnya.
Apa beda maf'ul bih dengan jar-majrur?
Maf'ul bih manshub dan langsung dikenai fi'il muta'addi, sedangkan jar-majrur majrur karena didahului huruf jar dan tidak disebut maf'ul bih secara i'rob. قَرَأَ الْكِتَابَ memiliki maf'ul bih; ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ hanya jar-majrur.
Kapan maf'ul bih wajib didahulukan dari fa'il?
Antara lain saat maf'ul berupa dhomir muttashil sementara fa'il isim zhahir (ضَرَبَهُ زَيْدٌ), saat fa'il memuat dhomir yang kembali ke maf'ul, dan saat fa'il dibatasi oleh إِلَّا atau إِنَّمَا.
Kenapa dhomir munfashil seperti iyyaka muncul di awal kalimat?
Dhomir muttashil tidak bisa memulai kalimat karena harus bersambung ke fi'il. Ketika maf'ul sengaja didahulukan, misalnya untuk membatasi makna seperti pada إِيَّاكَ نَعْبُدُ, dipakailah dhomir munfashil. Pendahuluan ini bersifat boleh dan bertujuan memberi penekanan.
Apa itu maf'ul bih ganda?
Yaitu fi'il yang menuntut dua maf'ul bih, seperti أَعْطَى (memberi) yang dua maf'ulnya bukan mubtada-khobar, dan ظَنَّ (menyangka) yang dua maf'ulnya asalnya mubtada-khobar.
Kesimpulan
Maf'ul bih adalah isim manshub yang dikenai pekerjaan fi'il. Jurumiyah memberi definisinya, Alfiyah menetapkan syarat dan hukum nashabnya: ia hanya hadir pada fi'il muta'addi dan akan naik menjadi naib fa'il bila fi'il dibuat majhul. Tandanya bervariasi sesuai jenis isim, bentuknya bisa isim zhahir, dhomir, masdar mu'awwal, hingga jumlah, dan urutannya mengikuti kaidah taqdim-ta'khir yang dirangkum Ibnu Malik dalam dua bait.
Langkah berikutnya: perbanyak contoh di Contoh Maf'ul Bih dalam Al-Qur'an dan Kalimat dan Contoh Maf'ul Bih di Juz 30.