Isim tafdhil adalah isim yang ikut wazan أَفْعَلُ (af'alu) yang menunjukkan makna "lebih" atau "paling" pada sesuatu yang disifati. Contohnya أَكْبَرُ (lebih/paling besar) dari كَبُرَ, dan أَحْسَنُ (lebih/paling baik) dari حَسُنَ.
Untuk membuatnya secara langsung, fi'il harus memenuhi 7 syarat (tsulatsi, mutasharrif, dapat menerima makna lebih, tam, tidak dinafikan, tidak berwazan af'alu untuk warna/cacat, dan bukan bina majhul). Jika tidak memenuhi syarat, dipakai cara tidak langsung dengan أَشَدُّ/أَكْثَرُ + masdar.
Isim tafdhil termasuk salah satu bab penting dalam ilmu nahwu-shorof karena sangat sering muncul, baik dalam percakapan sehari-hari maupun ayat Al-Qur'an. Sekilas bentuknya mirip fi'il karena mengikuti wazan أَفْعَلُ, tetapi secara hakikat ia adalah isim.
![]() |
| pengertian isim tafdhil adalah |
Pengertian Isim Tafdhil
Dikutip dari At-Tarjamatul Wustho Li Alfiyah Ibni Malik karya KH. Misbah Mustofa: isim tafdhil (atau disebut juga af'al tafdhil) adalah isim yang ikut wazan أَفْعَلُ yang menunjukkan bahwa pemilik makna tersebut memiliki kelebihan dibanding yang lain dalam hal yang menjadi asal katanya.
Meskipun bentuknya mengikuti wazan fi'il berupa أَفْعَلُ, isim tafdhil tetap termasuk kategori kalimat isim, bukan kalimat fi'il. Contoh paling mudah: عَلِمَ (mengetahui) jika dibuat isim tafdhil menjadi أَعْلَمُ yang artinya "lebih/paling mengetahui".
Contoh lain: أَفْضَلُ artinya lebih utama, أَكْرَمُ artinya lebih mulia. Semuanya menunjukkan makna perbandingan "lebih" antara satu hal dengan hal lainnya.
Syarat Isim Tafdhil
Untuk membuat isim tafdhil secara langsung (mustaqim), fi'il asalnya harus memenuhi 7 syarat berikut, sebagaimana dibahas dalam bab ta'ajjub:
- Berupa fi'il tsulatsi
- Mutasharrif (bisa ditasrif, bukan fi'il jamid)
- Dapat menerima makna kelebihan
- Fi'il tam, bukan fi'il naqish
- Tidak dinafikan
- Tidak mempunyai isim sifat yang ikut wazan أَفْعَلُ
- Tidak berupa bina majhul
1. Berupa Fi'il Tsulatsi
Isim tafdhil harus terbuat dari fi'il tsulatsi (3 huruf), contohnya عَلِمَ menjadi أَعْلَمُ, كَرُمَ menjadi أَكْرَمُ. Fi'il yang lebih dari tsulatsi (seperti اِسْتَخْرَجَ) tidak boleh langsung dibuat isim tafdhil.
2. Mutasharrif
Fi'il harus bisa ditasrif, bukan fi'il jamid. Contoh mutasharrif: عَلِمَ - يَعْلَمُ - اِعْلَمْ. Fi'il jamid seperti عَسَى, نِعْمَ, dan بِئْسَ tidak bisa dibuat isim tafdhil.
3. Dapat Menerima Makna Lebih
Fi'il yang maknanya bersifat mutlak (tidak bisa dilebih-kurangkan) tidak memenuhi syarat ini, contohnya مَاتَ (mati) tidak bisa jadi "lebih mati".
4. Fi'il Tam, Bukan Fi'il Naqish
Fi'il naqish seperti كَانَ وَأَخَوَاتُهَا tidak memenuhi syarat karena tidak membutuhkan fa'il-maf'ul seperti fi'il pada umumnya.
5. Tidak Dinafikan
Fi'il yang sedang dinafikan (didahului huruf nafi seperti مَا) tidak memenuhi syarat untuk dibuat isim tafdhil.
6. Tidak Berwazan Af'alu untuk Warna/Cacat
Fi'il yang isim sifatnya sudah memakai wazan أَفْعَلُ tidak bisa dibuat isim tafdhil lagi, contohnya أَحْمَرُ (merah) dan أَسْوَدُ (hitam).
7. Tidak Berupa Bina Majhul
Fi'il berbentuk majhul (pasif), seperti ضُرِبَ, tidak memenuhi syarat untuk dibuat isim tafdhil.
| Fi'il | Memenuhi Syarat? | Keterangan |
|---|---|---|
| عَلِمَ | Ya | Tsulatsi, mutasharrif, tam, ma'lum |
| مَاتَ | Tidak | Tidak menerima makna lebih |
| كَانَ | Tidak | Fi'il naqish |
| ضُرِبَ | Tidak | Bina majhul |
| اِحْمَرَّ | Tidak | Bukan tsulatsi & isim sifatnya sudah wazan af'alu |
Wazan Isim Tafdhil
Isim tafdhil memiliki dua wazan utama, tergantung jenis mausuf (kata yang disifati):
| Wazan | Dipakai untuk | Contoh |
|---|---|---|
| أَفْعَلُ | Mudzakkar (laki-laki/benda maskulin) | أَكْبَرُ، أَفْضَلُ، أَحْسَنُ |
| فُعْلَى | Muannats (perempuan/benda feminin), khusus saat kemasukan al | كُبْرَى، فُضْلَى، حُسْنَى |
Wazan فُعْلَى hanya dipakai ketika isim tafdhil kemasukan ال dan menjadi na'at bagi mausuf muannats. Selengkapnya bisa dilihat pada artikel Contoh Isim Tafdhil yang membahas seluruh pola pemakaian beserta contohnya.
Cara Membuat Isim Tafdhil
Cara membuat isim tafdhil terbagi menjadi dua, tergantung apakah fi'il asalnya memenuhi 7 syarat di atas atau tidak.
Cara Langsung (Mustaqim)
Jika fi'il memenuhi seluruh syarat, isim tafdhil dibentuk langsung dengan wazan أَفْعَلُ. Contoh: زَيْدٌ أَفْضَلُ مِنْ بَكْرٍ (Zaid lebih utama daripada Bakr). Lafadz أَفْضَلُ di sini memenuhi 7 syarat sehingga bisa dibuat isim tafdhil secara langsung.
Cara Tidak Langsung (Ghair Mustaqim)
Jika fi'il tidak memenuhi syarat tetapi tetap ingin dibuat isim tafdhil, caranya dengan menambahkan أَشَدُّ atau yang semakna dengannya seperti أَكْثَرُ, diikuti masdar dari fi'il tersebut. Contoh: زَيْدٌ أَشَدُّ اسْتِخْرَاجًا مِنْ بَكْرٍ (Zaid lebih giat mengeluarkan sesuatu daripada Bakr). Lafadz اِسْتِخْرَاجًا sendiri tidak memenuhi syarat isim tafdhil karena bukan tsulatsi, sehingga memakai أَشَدُّ.
| Cara | Pola | Dipakai Ketika |
|---|---|---|
| Mustaqim (langsung) | أَفْعَلُ | Fi'il memenuhi 7 syarat |
| Ghair mustaqim (tidak langsung) | أَشَدُّ/أَكْثَرُ/أَقَلُّ + مصدر | Fi'il tidak memenuhi syarat (ruba'i, warna, dll) |
Ketentuan Tambahan dalam Pemakaian
- Ketambahan min: jika isim tafdhil tidak kemasukan al dan tidak berupa idhofah, wajib ditemani مِنْ mufadholah. Contoh: زَيْدٌ أَفْضَلُ مِنْ بَكْرٍ.
- Berupa mufrad mudzakkar: jika isim tafdhil mudhaf kepada isim nakirah, wajib berbentuk mufrad mudzakkar walaupun mausufnya tatsniyah atau jamak muannats. Contoh: الْهِنْدَاتُ أَفْضَلُ الْمُسْلِمَاتِ.
- Sesuai mausuf (muthabaqah): jika kemasukan al, isim tafdhil wajib menyesuaikan mudzakkar/muannats dan mufrad/jamak dengan mausufnya. Contoh: هِنْدٌ الْفُضْلَى.
- Dapat dibaca 2 wajah: jika mudhaf kepada isim makrifat, boleh muthabaqah atau tidak. Contoh: الزَّيْدَانِ أَفْضَلَا الْقَوْمِ atau الزَّيْدَانِ أَفْضَلُ الْقَوْمِ.
- Tidak boleh ditambah min: jika isim tafdhil sudah mudhaf atau kemasukan al, tidak boleh lagi ditambah min mufadholah.
Ingin melihat lebih banyak contoh kalimat dan penerapan tiap pola di atas?
Lihat Contoh Isim Tafdhil Lengkap →FAQ Seputar Isim Tafdhil
Isim tafdhil ada berapa wazan?
Isim tafdhil memiliki 2 wazan: أَفْعَلُ untuk mudzakkar dan فُعْلَى untuk muannats (khusus saat kemasukan al).
Apa bedanya isim tafdhil dan isim fa'il?
Isim fa'il (wazan فَاعِلٌ) menunjukkan pelaku suatu perbuatan, sedangkan isim tafdhil (wazan أَفْعَلُ) menunjukkan makna "lebih/paling" dalam perbandingan.
Apakah semua fi'il tsulatsi otomatis bisa dibuat isim tafdhil?
Tidak. Fi'il tsulatsi tetap harus memenuhi 6 syarat lainnya (mutasharrif, dapat menerima makna lebih, tam, tidak dinafikan, tidak berwazan af'alu untuk warna/cacat, dan bukan bina majhul).
Kenapa isim tafdhil disebut juga af'al tafdhil?
Karena bentuknya mengikuti wazan fi'il berupa أَفْعَلُ, sehingga sebagian kitab (termasuk Alfiyah Ibnu Malik) menyebut bab ini dengan judul "Af'al Tafdhil", meskipun secara hakikat kategorinya tetap isim.
Bagaimana jika fi'ilnya tidak memenuhi syarat isim tafdhil?
Dipakai cara tidak langsung (ghair mustaqim) dengan menambahkan أَشَدُّ, أَكْثَرُ, atau أَقَلُّ diikuti masdar dari fi'il tersebut.
Kesimpulan
Isim tafdhil adalah isim berwazan أَفْعَلُ yang menunjukkan makna "lebih" atau "paling". Untuk membuatnya secara langsung, fi'il harus memenuhi 7 syarat; jika tidak, dipakai cara tidak langsung dengan أَشَدُّ/أَكْثَرُ + masdar. Pemakaiannya dalam kalimat juga terikat ketentuan tambahan seputar min tafdhiliyah, idhofah, dan muthabaqah saat kemasukan al.
Referensi
- At-Tarjamatul Wustho Li Alfiyah Ibni Malik, KH. Misbah Mustofa
- Jami'ud Durus Al-'Arabiyah, Musthafa Al-Ghalayini
- Matnul Ajurrumiyah, Ibnu Ajurrum
- Alfiyah Ibnu Malik
